Catatan 3: Membandingkan Diri Gak Bikin Kaya Bos

    



"Keren banget ya dia sukses gitu, aku umur segini belum keliatan jodohnya, duit masih apa adanya, ga da hebat-hebatnya lah"

"Ini roda hidupku lagi macet deh, kok ga sama seperti rodanya orang lain yang muter ke atas"

Pemikiran seperti di atas banyak hadir sepanjang tahun kemarin. Permasalahannya Gen Z banget sih, membandingkan diri karena melihat pencapaian teman-teman di sosial media.

Ga jarang aku sampai meratapi kehidupanku yang sebenernya juga ga ngenes-ngenes banget. Memang agak berdampak parah di hidupku sih perkara membandingkan diri ini.

Aku yang dulu sering oversharing di status WA, sekarang jadi lebih banyak bungkam karena aku ngerasa gak pantas aja ngomong pesan-pesan kehidupan di saat hidupku lagi ga baik-baik aja gini. Curiga penonton status WAku berpikir aku ngehide, padahal emang jarang buat aja.

Selain itu, aku juga mengurangi intensitas berselancar di first account karena takuttt kepancing insecure yang hanya akan merusak hariku. Muncullah akun-akun alter seperti ini, dalam kondisi tidak percaya diri rasanya lebih nyaman bersembunyi di balik nama buah ketimbang nama sendiri.

Walhasil rada kesepian sih karena otomatis aku kehilangan celah untuk menghubungi teman-temanku via sosial media, ditambah lagi aku harus kembali ke rumah yang cukup jauh dari tempatku bertumbuh selama ini.

Bersyukur di tengah rasa kesepian yang menjadi-jadi, aku termotivasi untuk kembali membaca buku setelah sekian lama kehilangan minat baca.

Walau kebanyakan buku yang aku baca memang fiksi, tetap saja aku bisa memetik banyak hikmah dari cerita yang aku nikmati. Buku-buku itu membuka sudut pandangku yang bisa dibilang "kurang jauh mainnya."

Kali ini aku mau sharing perkara pengendalian rasa iri dan membandingkan diri dengan orang lain yang kupetik dari bukunya Kak Altami berjudul Penaka. Ini satu prinsip yang sedang berusaha aku praktekkan.

Yaitu sebelum iri ke seseorang, aku harus mikir ini dulu:

1. Aku tidak benar-benar mengenal temanku ini, mungkin hanya melihat di sosial media atau mendengar cerita tentangnya. Rasanya ga adil kalau aku iri tanpa tahu apa yang telah ia lalui hingga berhasil sampai titik ini. Aku ga tahu kehilangan dan pengorbanan apa yang udah dia rasain sampai sesukses sekarang.

2. Atau mungkin aku kenal dekat dengan orangnya, tahu tentang hidupnya, tapi dia tipe yang pandai menyembunyikan kesusahannya sampai aku ga tahu perjuangan apa saja yang ia lakukan hingga sampai ada di posisinya yang sekarang.

Setelah menerapkan prinsip itu, aku lumayan berkurang membanding-bandingkan dirinya. Barangkali memang perjuanganku belum sekuat dia, doaku belum sebanyak dia, atau pengorbananku belum sehebat dia.

Ini standar banget sih, tapi memang setiap orang punya lintasannya sendiri-sendiri. Menggunakan lintasan atau target orang lain hanya akan mempersulit hidup.

Kenapa ga dijadiin motivasi aja sih atau malah bagus lagi kalau bisa tanya-tanya tips suksesnya. Lagian bandingin diri tuhhh udah cuapekkk ga dibayar lagii.

So, pesanku buat diriku sendiri, ayo stop membandingkan diri, kurangin iri sama apa yang orang lain dapatkan. Hidup jadi lebih tenang ketika berhasil menghargai apa yang aku punya, sekecil apapun itu.











Komentar

Postingan Populer