The Privileged Ones

   

The Privileged Ones: Privilese Bukan Hanya Soal Materi

https://images-na.ssl-images-amazon.com/images/S/compressed.photo.goodreads.com/books/1646647991i/60566288.jpg


"Karena tidak bisa menjadi diri sendiri adalah tragedi terbesar yang bisa terjadi pada seseorang."

About This Books

  • Judul Buku : The Privileged Ones
  • Penulis : Mutiarini
  • Published : Maret 2022
  • Publisher : Gramedia Pustaka Utama
  • Bahasa : Indonesia
  • Jumlah Halaman : 248 halaman
  • Genre : Fiksi – Young Adult
  • Baca di Gramedia Digital

Sinopsis Singkat

Rara, seorang perempuan cerdas asal Banyuwangi. Ia diterima di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pandawa, merupakan yang terbaik di Indonesia. Pada awalnya orangtua Rara kurang mendukung keputusannya untuk berkuliah disana karena keterbatasan biaya yang mereka miliki. Dengan bantuan uang pangkal dan juga dukungan dari kakaknya, Rara pun berhasil melanjutkan mimpinya untuk berkuliah.

Suatu hari, dengan dasar banyaknya konten-konten unfaedah yang hadir di ranah digital, Bu Susan  salah satu dosen Rara — mengadakan proyek berkelompok untuk menciptakan channel Youtube yang unik dan bermanfaat bagi masyarakat. Rara sekelompok dengan kedua sahabatnya yaitu Anggun dan Sekar. Mereka membuat channel dengan judul Soul Diary yang membahas tentang kesehatan mental. Tujuan dari dibentuknya channel ini adalah meningkatkan kepedulian terhadap masalah kesehatan mental dan menormalisasi perbincangan mengenai hal tersebut. 

Bersebab banyaknya keterbatasan yang ada, Rara sering minder dengan Diva, salah satu teman sekelasnya.  Rara merasa Diva punya segalanya. Orangtua yang kaya raya, paras yang cantik, dan popularitas. Rasa mindernya ini semakin terlihat dengan adanya challenge Youtube ini. Ia selalu merasa tersaingi dan terlalu berfokus untuk mengalahkan Diva dibandingkan esensi nyata dari pembuatan Soul Diary. Masalah demi masalah pun hadir dalam keberjalanan challenge ini.

Sedikit Review

Novel ini tiba-tiba muncul di saran goodreadsku. Aku tertarik dengan sinopsisnya dan langsung download di Gramedia Digital buat baca. Ini tuh tipe cerita yang aku suka, semisal di drakor tuh ganti-ganti kasus setiap episodenya. Nah, di buku ini topik kesehatan mental yang dibahas berbeda-beda tergantung narasumber Soul Diary, ada beberapa yang cukup relate di kehidupan. Karena kesehatan mental erat dengan trauma yang dimiliki masing-masing orang, penulis berhasil menceritakan latar belakang tokohnya dengan baik.

Sebenarnya masalah yang ada di cerita Rara ini buanyaak bangettt, tapi kerennya aku puas dengan eksekusi penyelesaiannya. Narasinya juga mengalir dan masih kebayang kalau tokoh yang mengalami pergulatan seperti ini tuh ya anak kuliah gitu. Ada sedikit plot twist juga di ending wkwkwk. Seruu bangetlah buat dibaca, salah satu buku yang aku selesaikan dalam satu hari.
"Menurut gue, naif namanya kalau lo cuma melihat privilese sebagai uang, kondisi fisik, dan semua yang lo sebutkan tadi. Privilese hadir dalam berbagai bentuk. Kesehatan, bakat, kecerdasan, orang-orang baik di sekitar lo, lingkungan tempat lo tinggal, akses ke pendidikan, serta banyak hal lagi."

Selanjutnya, novel ini mampu mengangkat topik privilese yang sekarang sedang ramai dibicarakan dengan baik. Seringkali kita memaknai privilese hanya dari segi materi saja, padahal privilese hadir dalam bentuk lainnya. Dan sikap Rara yang suka membandingkan dirinya dengan Diva ini pasti pernah dialami oleh banyak orang, termasuk aku haha. Sekali lagi, aku disadarkan lewat baca buku bahwa ya dibanding sibuk membandingkan diri sendiri, mending segera menyadari privilese yang aku punya lalu menggunakannya semaksimal mungkin untuk bermanfaat bagi sesama.

Selain itu, ada poin parenting juga yang dibawa, yaitu tentang pilihan. Ini kutipannya...

"Jadi, dengan orangtua yang punya kemampuan pengasuhan yang baik, yang siap secara fisik, mental, maupun finansial, anak akan mampu membuat pilihan itu sendiri dengan penuh tanggung jawab. Pilihan untuk mengikuti kata hati, menjadi mandiri dan mewujudkan hidup yang berarti, bukan sekadar untuk menyenangkan orang lain. Intinya, pilihan untuk selalu jadi diri sendiri. Karena tidak bisa menjadi diri sendiri adalah tragedi terbesar yang bisa terjadi pada seseorang."

Satu hal yang dapat kuambil dari sini yaitu dengan mampunya orangtua menyediakan fasilitas yang membuat anak punya banyak pilihan itu sudah amat sangat cukup bagi seorang anak. Tanpa perlu memaksakan kehendak mereka, anaknya harus mengikuti jejaknya lah atau harus begini dan begitu. Ya menjalani sesuatu dengan tidak bahagia pun seringkali gak menghasilkan apa-apa bukan? Tapi ya aku paham juga pasti setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya, walaupun terkadang penyampaiannya terkesan kaku dan sedikit memaksa. Jadi kuncinya memang di komunikasi 2 arah antara anak dan orangtua sehingga nantinya bisa melahirkan kepercayaan satu sama lain.

Buku ini cocok dibaca untuk siapapun yang ingin memahami ulang makna privilese yang ada dalam dirinya. Cukup ringan untuk dibaca dan relevan dengan banyak hal yang terjadi saat ini.

Komentar

Postingan Populer